Untukmu Agamamu, Untukku Agamaku
Tulisan ini mendadak saya buat
setelah membaca suatu artikel, beberapa komentar, dan mengingat masa lalu.
Pembahasan tentang tema toleransi
sering dianggap pembahasan yang memiliki satu sudut pandang pembenaran yang
sama yaitu kemanusiaan.
Teman saya di SMA pernah
mengatakan bahwa semua agama itu sama, satu tujuan, hanya saja cara dan
prosesnya yang berbeda. Tapi bukankah dalam pendidikan kita menyadari betapa
pentingnya sebuah proses? Dengan proses yang tidak tepat, maka tujuan tidak
akan terpenuhi. Dengan proses yang keliru, maka dapat merusak pola pikir anak
dan terjadi miskonsepsi. Jadi menurut saya, tidak tepat mengatakan bahwa semua
agama itu sama.
“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku” (Q.S
109: 6). Ayat tersebut mengajarkan kita untuk saling bertoleransi sesama umat
beragama, menghindari perdebatan, dan tidak memaksakan ajaran satu terhadap
yang lain. Yang ingin saya tekankan adalah kata ‘memaksakan’. Dari perkataan
seseorang saya kutip bahwa :
“bayangkan jika kita tak henti
menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing
umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan
ada titik temu”
Sebagai muslim, kita memang tidak
boleh memaksa seseorang untuk masuk ke ajaran Islam. Tapi hal tersebut tidak
menggugurkan kewajiban muslim sebagai seorang dai. Kita dai sebelum apapun. Kita
diwajibkan untuk terus mengajak kepada ke jalan kebajikan (Islam) sampai akhir
hayat. Ingat, hal ini adalah suatu kewajiban bagi tiap pribadi muslim beriman,
walaupun bentuk pengajakannya dapat disesuaikan dengan kemampuan dan
keterampilan masing-masing.
Yang menjadi tujuan bukanlah
suatu negara yang dihuni oleh rakyat yang beragama Islam semua, tetapi tegaknya
hukum Islam atas negara. Pasti banyak orang yang beranggapan bahwa ketika setiap
agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara, maka tak
dipungkiri, peperangan antar agama akan berkecamuk, dan kehancuran akan
menerjang. Tetapi jika sistem yang berlaku merupakan penjara tak terlihat bagi
manusia, akankah kita terus diam di dalam penjara tersebut? Penjara itu tak
terlihat, jadi kita tidak merasa berada dalam tahanan. Tetapi ada batas-batas
hak kita yang dilanggar karena adanya jeruji-jeruji tersebut. Apakah kita akan
terus membiarkan diri terkungkung tanpa tau potensi maksimal kita? Karena sesungguhnya,
fitrah islam merupakan potensi dasar yang diberikan Sang Pencipta kepada tiap
manusia untuk terus beraktualisasi mencapai tujuan hidup.
Salah satu karakteristik umat
beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya. Namun sebagai seorang yang
memiliki sikap ilmiah, segala sesuatu harus diuji kebenarannya. Kenapa tidak
agama diuji kebenarannya sehingga menghasilkan bukti yang kuat bagi orang-orang
yang berakal? Sebagian besar dari kita memang beragama karena warisan dari
orang tua, dan kita tidak bisa memilih dari pasangan orang tua mana kita
dilahirkan. Tetapi, bagai sebuah harta warisan, bukankah akan akan habis jika
tak terus dikembangkan? Keyakinan itu juga perlahan akan memudar dan akhirnya
hilang. Disinilah pentingnya sebuah pembuktian untuk diri sendiri. Lagian jika
hanya meniru apa yang diajarkan sedari kecil, kita hanyalah seorang peniru
tanpa prinsip yang akhirnya akan terombang-ambing di tengah laut abu.
Kita tidak berhak mencoba menjadi
tuhan dengan melabeli seseorang masuk surga ataupun neraka. Dan jangan jadikan
pengagung-agungan atas kebenaran agama menjadi alasan perpecahan bangsa. Tetapi
jangan lupa, bukan hanya sebagai orang yang beragama tetapi sebagai seseorang
yang memiliki prinsip, yakini sepenuh hati bahwa Islam lah kebenaran yang haq.
Wa’allahu ‘alam bishawab.
Comments
Post a Comment